Lebih baik Ta'aruf Sebab Hatimu Lebih Berharga Untuk Cinta yang Sementara



Bila engkau lelaki, engkau harus tahu arah saat melangkah.
Bila engkau perempuan. Seharusnya tahu bagaimana bertingkah.

#Udahputusinaja .
Sebab hatimu terlalu berharga untuk cinta yang sementara.
lebih baik taaruf....

yuk simak motivasi di bawah ini:

Mendengar kata ta’aruf, para jomblo yang siap menikah pastinya akan mengidentikkan dengan sebuah proses menuju pernikahan. Ini sebuah proses yang berbeda dengan pacaran. Ta’aruf dianggap jalur sakral yang suci untuk mewujudkan sebuah pernikahan karena dianggap sesuai dengan syariat Islam.

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal (QS Al-Hujurat[49]: 13).
Secara umum, ta’aruf ini dapat diartikan sebagai 'kenalan'. Jadi ta’aruf tidak harus dalam proses menuju pernikahan saja namun perkenalan dalam momen apapun bisa saja disebut sebagai ta’aruf. Perkenalan di kantor, dalam komunitas, dalam sebuah event dan sebagainya itu semuanya dapat pula disebut ta’aruf.

Namun tidak ada salahnya jika proses menuju pernikahan disebut dengan ta’aruf. Memang sebelum menikah itu ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu siapa calon pasangan. Harapannya agar ditemukan ketertarikan dan kecocokan supaya rumah tangga yang dibangun nantinya bisa langgeng dan bahagia.

Nah, bagaimana dengan pacaran? Bukankah itu juga sebenarnya sebuah proses berkenalan juga? Betul, pacaran merupakan proses untuk mengenali calon pasangan. Malah pacaran itu terkadang bukan saja sekedar mengenali, tapi bisa sampai pada tahap memahami. Bedanya adalah, ta’aruf itu proses berkenalan yang dibatasi dengan kaidah-kaidah syariat Islam. Bahkan jauh lebih rijit dibandingkan proses pacaran.

Di dalam ta'aruf itu tidak ada proses berkhalwat (bersunyi-sunyi berdua). Perkenalan pun dibatasi sebatas hal-hal yang didapat dari biodata, dari pertanyaan-pertanyaa atau konfirmasi dari orang dekat si calon. Dalam prosesnya tidak ada komitmen apapun, siap diterima dan siap batal dengan tetap menjaga kerahasiaan proses ta’aruf. Itulah sebabnya tak pernah ditemukan istilah 'mantan ta’aruf'.

Sementara proses pacaran, biasanya berupa komitmen dan terpublish ke publik bahwa si A adalah pacar si B. Sebuah komitmen yang sangat lemah, tak diikat oleh apapun kecuali janji yang terucap. Jadi seseorang yang pacaran tidak bisa dianggap selingkuh jika punya pacar lagi karena tidak ada ikatan yang kuat yang melarangnya, baik secara hukum Islam maupun hukum positif.  Apakah ada UU yang melarang seseorang punya pacar banyak?

Sejalan dengan meningkatnya kesadaran ummat terhadap agamanya, hal ini menyebabkan semakin banyak yang memilih cara ta’aruf untuk mewujudkan pernikahan mereka. Pemahaman tentang rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, mendorong orang untuk mencari pasangan yang baik yang identik dengan relijius. Mereka yang relijius tentunya menempuh cara-cara yang sesuai dengan kaidah agama.

Ta’aruf jauh lebih simple, tak perlu datang ngapel setiap malam minggu selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Cukup sebulan proses ta’aruf, umumnya lanjut proses khitbah (lamaran) ke calon mertua. Jika diterima, sudah bisa ajak keluarga untuk melamar secara resmi dan menentukan tanggal akad nikah.

Ta’aruf Menumbuhkan Cinta
Anda tahu mengapa orang pacaran bisa begitu mesra? Karena mereka sedang melakukan eksplorasi terhadap pasangan (tak sah) nya itu. Kegiatan eksplorasi itu kemudian menimbulkan rasa penasaran berkombinasi dengan syahwat yang selalu mengejar kepuasan. Inilah yang menyebabkan kecenderungan dan melahirkan rasa rindu ingin selalu bertemu. 

Sayangnya eksplorasi tersebut dilakukan sebelum ada ikatan yang sah. Apabila salah satunya sudah merasa puas mengeksplorasi, akan mulai timbul kejenuhan. Hingga yang tersisa hanya rasa tak enak karena sudah terlanjur lama bersama, sudah terlanjur kenal dekat atau sudah terlanjur merasa memahami. Lalu setelah itu timbul shock, setelah menikah menemukan kenyataan pasangannya ternyata pribadi yang sangat jauh berbeda ketika saat pacaran dulu.

Hal yang sama bisa juga dilakukan setelah menikah. Mengeksplorasi pasangan yang baru dikenal akan menumbuhkan rasa sayang, kangen dan keinginan untuk saling menjaga. Masa-masa itu tak akan lekang menjadi jemu, karena rumah tangga dibangun dengan suasana penuh kemesraan, bukan karena terjebak situasi 'terlanjur; kenal dan sebagainya. Dinamika didalamnya justru menjadi pelajaran untuk memahahi pasangan, keduanya akan saling mereduksi ego untuk menemukan pola terbaik untuk rumah tangga mereka.

Lalu seiring perjalanan pernikahan, akan banyak hal-hal baru untuk dieksplore hingga kemesraan terus terjaga. Tetangga, anak, karir, keluarga besar, dan masih banyak hal lain yang akan menyibukan suami istri untuk terus berkolaborasi mencari solusi dalam menghadapi problemantika yang datang. Keduanya akan saling menguatkan satu sama lain merawat cinta mereka yang mereka mulai dengan kesucian dan tuntunan Allah dan RasulNya.

Untuk pembahasan mengenai teknis dan tata cara ta’aruf akan saya uraikan lebih dalam pada tulisan selanjutnya. Jadi sekarang Anda hendak memilih yang mana; ta'aruf atau masih tetap pacaran?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lebih baik Ta'aruf Sebab Hatimu Lebih Berharga Untuk Cinta yang Sementara"

Post a Comment